FRASA

FRASA

Colin Widi Widawati K1208024

A. PENDAHULUAN
Bahasa merupakan suatu komponen penting yang digunakan dalam berkomunukasi. Pengenalan tentang kebahasaan pun perlu sekali ditingkatkan. Untuk itu, sebagai warga negara yang baik kita hendaknya mempelajari bahasa tidak hanya sekedar tahu bagaimana cara mengkomunikasikannya, tetapi juga tahu kaidah-kaidahnya. Baik kaidah secara tertulis maupun secara lisan.
Maka dari itu, ada ilmu yang mempelajari tentang bahasa yang disebut dengan linguistik. Linguistik itu sendiri meliputi beberapa ilmu, seperti fonologi, morfologi, sintaksis, semantik dan lain sebagainya. Dalam hal ini, kami akan membahas tentang sintaksis yang mempelajari tentang struktur kalimat, seperti frasa, klausa, dan kalimat.
Lebih rinci lagi akan dibahas mengenai frasa, banyak orang sering mempermasalahkan antara frasa dengan kata, ada yang membedakannya dan ada juga yang mengatakan bahwa keduanya itu sama. Seperti yang telah dipelajari dalam morfologi bahwa kata adalah adalah satuan gramatis yang masih bisa dibagi menjadi bagian yang lebih kecil. Sedangkan frasa merupakan gabungan dua kata yang bila digabungkan akan menghasilkan makna baru dan gabungan tersebut tidak melebihi batas fungsi. Hal yang selengkapnya mengenai frasa akan dibahas dalam materi berikut.

B. RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah dari makalah ini adalah:
1. Apakah pengertian frasa itu?
2. Apasajakah jenis-jenis frasa itu beserta contohnya?

C. TUJUAN DAN MANFAAT
Tujuan dan manfaat dari makalah ini adalah:
1. untuk mengetahui makna dari frasa, dan
2. untuk mengetahui jenis-jenis frasa dengan contoh-contohnya.

D. PEMBAHASAN
1. Pengertian Frasa
Frasa adalah satuan konstruksi yang terdiri dari dua kata atau lebih yang membentuk satu kesatuan (Keraf, 1984:138). Frasa juga didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonprediktif, atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat (Chaer, 1991:222). Frasa juga diartikan sebagai satuan linguistik yang secara potensial merupakan gabungan dua kata atau lebih, yang tidak mempunyai ciri-ciri klausa (Cook, 1971: 91; Elson and Pickett, 1969: 73). Menurut Prof. M. Ramlan, frasa adalah satuan gramatik yang terdiri atas satu kata atau lebih dan tidak melampaui batas fungsi atau jabatan (Ramlan, 2001:139). Artinya sebanyak apapun kata tersebut asal tidak melebihi jabatannya sebagai Subjek, predikat, objek, pelengkap, atau pun keterangan, maka masih bisa disebut frasa.
Contoh:
a. gedung sekolah itu
b. yang akan pergi
c. sedang membaca
d. sakitnya bukan main
e. besok lusa
f. di depan.

Jika contoh itu diletakkan dalam kalimat, kedudukannya tetap pada satu jabatan saja.

a. Gedung sekolah itu(S) luas(P).
b. Dia(S) yang akan pergi(P) besok(Ket).
c. Bapak(S) sedang membaca(P) koran sore(O).
d. Pukulan Budi(S) sakitnya bukan main(P).
e. Besok lusa(Ket) aku(S) kembali(P).
f. Bu guru(S) berdiri(P) di depan(Ket).

Jadi, walau terdiri dari dua kata atau lebih tetap tidak melebihi batas fungsi. Pendapat lain mengatakan bahwa frasa adalah satuan sintaksis terkecil yang merupakan pemadu kalimat.
Contoh:
a. Mereka(S) sering terlambat(P).
b. Mereka(S) terlambat(P).
Ket: ( _ ) frasa.

Pada kalimat pertama kata ‘mereka’ yang terdiri dari satu kata adalah frasa. Sedangkan pada kata berikutnya hanya kata ‘sering’ yang termasuk frasa karena pada jabatan itu terdiri dari suatu kata dan kata ‘sering’ sebagai pemadunya. Pada kalimat kedua, kata ‘mereka’ dan ‘terlambat’ adalah frasa karena hanya terdiri dari satu kata pada tiap jabatannya.
Dari kedua pendapat tersebut bisa diambil kesimpulan bahwa frasa bisa terdiri dari satu kata atau lebih selama itu tidak melampaui batas fungsi atau jabatannya yang berupa subjek, predikat, objek, pelengkap, atau pun keterangan. Jumlah frasa yang terdapat dalam sebuah kalimat bergantung pada jumlah fungsi yang terdapat pada kalimat itu juga.

2. Jenis Frasa
Jenis frasa dibagi menjadi dua, yaitu berdasarkan persamaan distribusi dengan unsurnya (pemadunya) dan berdasarkan kategori kata yang menjadi unsur pusatnya.
a. Berdasarkan Persamaan Distribusi dengan Unsurnya (Pemadunya).
Berdasarkan persamaan distribusi dengan unsurnya (pemadunya) atau tipe bentuknya, frasa dibagi menjadi dua, yaitu Frasa Endosentris dan Frasa Eksosentris.
1) Frasa Endosentris, kedudukan frasa ini dalam fungsi tertentu, dapat digantikan oleh unsurnya. Atau frasa endosentrik dapat diartikan frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya. Unsur-unsur tersebut berkedudukan setara dan maknanya mengacu pada referensi yang sama (Ramlan, 1987:155). Unsur frasa yang dapat menggantikan frasa itu dalam fungsi tertentu yang disebut unsur pusat (UP). Dengan kata lain, frasa endosentris adalah frasa yang memiliki unsur pusat.
Contoh:
Sejumlah mahasiswa(S) diteras(P).

Kalimat tersebut tidak bisa jika hanya ‘Sejumlah di teras’ (salah) karena kata mahasiswa adalah unsur pusat dari subjek. Jadi, ‘Sejumlah mahasiswa’ adalah frasa endosentris.

Frasa endosentris sendiri masih dibagi menjadi tiga.
a) Frasa Endosentris Koordinatif, yaitu frasa endosentris yang semua unsurnya adalah unsur pusat dan mengacu pada hal yang berbeda diantara unsurnya terdapat (dapat diberi) ‘dan’ atau ‘atau’.
Contoh:
(1) rumah pekarangan
(2) suami istri dua tiga (hari)
(3) ayah ibu
(4) pembinaan dan pembangunan
(5) pembangunan dan pembaharuan
(6) belajar atau bekerja.
b) Frasa Endosentris Atributif, yaitu frasa endosentris yang disamping mempunyai unsur pusat juga mempunyai unsur yang termasuk atribut. Atribut adalah bagian frasa yang bukan unsur pusat, tapi menerangkan unsur pusat untuk membentuk frasa yang bersangkutan.
Contoh:
(1) pembangunan lima tahun
(2) sekolah Inpres
(3) buku baru
(4) orang itu
(5) malam ini
(6) sedang belajar
(7) sangat bahagia.
Kata-kata yang dicetak miring dalam frasa-frasa di atas seperti adalah unsur pusat, sedangkan kata-kata yang tidak dicetak miring adalah atributnya.

c) Frasa Endosentris Apositif, yaitu frasa endosentris yang semua unsurnya adalah unsur pusat dan mengacu pada hal yang sama. Unsur pusat yang satu sebagai aposisi bagi unsur pusat yang lain. Untuk itu, unsur-unsur pembentuknya secara otomatis mempunyai hubungan antarsuku, baik dalam hubungan posisi maupun hubungan makna. (Yuniawan, 2000)
Contoh:
Ahmad, anak Pak Sastro, sedang belajar.
Ahmad, …….sedang belajar.
……….anak Pak Sastro sedang belajar.
Unsur ‘Ahmad’ merupakan unsur pusat, sedangkan unsur ‘anak Pak Sastro’ merupakan aposisi.

Contoh lain:
(1) Yogya, kota pelajar
(2) Indonesia, tanah airku
(3) Bapak SBY, Presiden RI
(4) Mamad, temanku.

Frasa yang hanya terdiri atas satu kata tidak dapat dimasukkan ke dalalm frasa endosentris koordinatif, atributif, dan apositif, karena dasar pemilahan ketiganya adalah hubungan gramatik antara unsur yang satu dengan unsur yang lain. Jika diberi aposisi, menjadi frasa endosentris apositif. Jika diberi atribut, menjadi frasa endosentris atributif. Jika diberi unsur frasa yang kedudukannya sama, menjadi frasa endosentris koordinatif

2) Frasa Eksosentris, adalah frasa yang tidak mempunyai persamaan distribusi dengan unsurnya. Frasa ini tidak mempunyai unsur pusat. Jadi, frasa eksosentris adalah frasa yang tidak mempunyai UP.
Contoh:
Sejumlah mahasiswa di teras.

b. Berdasarkan Kategori Kata yang Menjadi Unsur Pusatnya.
Berdasarkan kategori kata yang menjadi unsur pusatnya, frasa dibagi menjadi enam.
1) Frasa nomina, frasa yang UP-nya berupa kata yang termasuk kategori nomina. UP frasa nomina itu berupa:
a) nomina sebenarnya
contoh:
pasir ini digunakan utnuk mengaspal jalan
b) pronomina
contoh:
dia itu musuh saya
c) nama
contoh:
Dian itu manis
d) kata-kata selain nomina, tetapi strukturnya berubah menjadi nomina
contoh:
dia rajin → rajin itu menguntungkan
anaknya dua ekor → dua itu sedikit
dia berlari → berlari itu menyehatkan
kata rajin pada kaliat pertam awalnya adalah frasa ajektiva, begitupula dengan dua ekor awalnya frasa numeralia, dan kata berlari yang awalnya adalah frasa verba.

2) Frasa Verba, frasa yang UP-nya berupa kata yang termasuk kategori verba. Secara morfologis, UP frasa verba biasanya ditandai adanya afiks verba. Secara sintaktis, frasa verba terdapat (dapat diberi) kata ‘sedang’ untuk verba aktif, dan kata ‘sudah’ untuk verba keadaan. Frasa verba tidak dapat diberi kata’ sangat’, dan biasanya menduduki fungsi predikat.
Contoh:
Dia berlari.
Secara morfologis, kata berlari terdapat afiks ber-, dan secara sintaktis dapat diberi kata ‘sedang’ yang menunjukkan verba aktif.
3) Frasa Ajektifa, frasa yang UP-nya berupa kata yang termasuk kategori ajektifa. UP-nya dapat diberi afiks ter- (paling), sangat, paling agak, alangkah-nya, se-nya. Frasa ajektiva biasanya menduduki fungsi predikat.
Contoh:
Rumahnya besar.
Ada pertindian kelas antara verba dan ajektifa untuk beberapa kata tertentu yang mempunyai ciri verba sekaligus memiliki ciri ajektifa. Jika hal ini yang terjadi, maka yang digunakan sebagai dasar pengelolaan adalah ciri dominan.
Contoh:
menakutkan (memiliki afiks verba, tidak bisa diberi kata ‘sedang’ atau ‘sudah’. Tetapi bisa diberi kata ‘sangat’).
4) Frasa Numeralia, frasa yang UP-nya berupa kata yang termasuk kategori numeralia. Yaitu kata-kata yang secara semantis mengatakan bilangan atau jumlah tertentu. Dalam frasa numeralia terdapat (dapat diberi) kata bantu bilangan: ekor, buah, dan lain-lain.
Contoh:
dua buah
tiga ekor
lima biji
duapuluh lima orang.
5) Frasa Preposisi, frasa yang ditandai adanya preposisi atau kata depan sebagai penanda dan diikuti kata atau kelompok kata (bukan klausa) sebagai petanda.
Contoh:
Penanda (preposisi) + Petanda (kata atau kelompok kata) di teras
ke rumah teman
dari sekolah
untuk saya

6) Frasa Konjungsi, frasa yang ditandai adanya konjungsi atau kata sambung sebagai penanda dan diikuti klausa sebagai petanda. Karena penanda klausa adalah predikat, maka petanda dalam frasa konjungsi selalu mempunyai predikat.
Contoh:
Penanda (konjungsi) + Petanda (klausa, mempunyai P)
Sejak kemarin dia terus diam(P) di situ.
Dalam buku Ilmu Bahasa Insonesia, Sintaksis, Ramlan menyebut frasa tersebut sebagai frasa keterangan, karena keterangan menggunakan kata yang termasuk dalam kategori konjungsi.

E. KESIMPULAN
Frasa didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonprediktif, atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat.
Jenis frasa dibagi menjadi dua, yaitu berdasarkan persamaan distribusi dengan unsurnya (pemadunya) dan berdasarkan kategori kata yang menjadi unsur pusatnya. Berdasarkan persamaan distribusi dengan unsurnya (pemadunya) yaitu frasa endosentris dan frasa eksosentris. Berdasarkan kategori kata yang menjadi unsur pusatnya yaitu frasa nomina, frasa verba, frasa ajektiva, frasa numeralia, frasa preposisi dan frasa konjungsi.

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan dan Dery Sugono. 2002. Telaah Bahasa dan Sastra. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Arifin, Zaenal dan S. Amran Tasai. 2002. Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Akademika Pressindo.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 1998. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.

Ibrahim, Syukur, dkk. Bahan Ajar Sintaksis Bahasa Indonesia. Departemen Pendidikan Nasional Universitas Negeri Malang.

Ramlan, M. 2001. Ilmu Bahasa Indonesia Sintaksis. Yogyakarta: C.V. Karyono.

Rusnaji, Oscar. 1983. Aspek-aspek Sintaksis Bahasa Indonesia. IKIP Malang.

____________. Aspek-aspek Linguistik. IKIP Malang.

Samsuri. 1985. Tata Bahasa Indonesia Sintaksis. Jakarta: Sastra Budaya.

Sugono, Dendy. 1986. Berbahasa Indonesia dengan Benar. Jakarta: C.V. Kilat Grafika.

Tarigan, Henry Guntur. 1983. Prinsip-Prinsip Dasar Sintaksis. Bandung: Angkasa.

Wirjosoedjarmo. 1984. Tata Bahasa Indonesia. Surabaya: Sinar Wijaya

Verhaar. 2004. Asas-asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Yuniawan, Tommi. 2000. Jurnal: Tipe Frasa Apositif dalam Bahasa Inonesia.

Analisis Kritik Sastra

KRITIK SASTRA

Analisis Kritik Sastra

Batasan kritik sastra yang sempit
1. Kritik sastra adalah salah satu jenis esai, yaitu pertimbangan baik atau buruknya suatu hasil karya sastra (mungkin ada alternatif lain). Rumusan ini ada benarnya bila yang dimaksud kritik sastra adalah semacam penilaian, tanggapan, dan komentar terhadap suatu karya sastra. (HB Jassin)
Analisis: teori ini merupakan teori yang mencari baik buruknya karya sastra, mengandung pertimbangan nilai, dan berbentuk tertulis. Jadi, teori ini mengandung cakupan yang sempit.
2. Kritik sastra adalah keterangan, kebenaran analisis atau judgment suatu karya sastra. (William F. Thrall dan Addison Hibbard)
Analisis: teori ini merupakan teori yang hanya menggunakan analisis dalam menilai karya sastra, dan bersifat menghakimi karya sastra, serta berbentuk tertulis. Jadi, teori ini mengandung cakupan yang sempit.
3. Kritik sastra adalah suatu bentuk kegiatan evaluasi yang memandang karya sastra sebagai objek bagi pengalaman estetik. (Stolnitz)
Analisis: teori ini merupakan teori yang hanya mengevaluasi karya sastra, berbentuk bisa tertulis atau lisan. Jadi, teori ini memiliki cakupan yang sempit.
4. Kritik sastra adalah proses kegiatan evaluasi karya sastra dengan kecenderungan untuk menyajikan suatu keputusan akhir yang menentukan nilai karya sastra yang dikritik dalam pembandingannya dengan karya sastra lain yang sejenis. (Feldmen)
Analisis: teori ini merupakan teori yang hanya bersifat menilai dan membandingkan karya sastra dan cenderung menghakimi saja. Teori ini berbentuk tertulis. Jadi, teori ini memiliki cakupan yang sempit.
5. Kritik sastra adalah suatu studi yang rinci dan apresiatif tentang suatu karya sastra. (Flaccus)
Analisis: teori ini merupakan teori yang hanya bersifat apresiatif, dan berbentuk tertulis. Jadi, teori ini memiliki cakupan yang sempit.
6. Kritik sastra adalah studi sastra untuk menghakimi karya sastra, untuk memberi penilaian dan keputusan mengenai bermutu tidaknya suatu karya sastra. (Rachmad Djoko Pradopo)
Analisis: teori ini merupakan teori yang memiliki batasan kritik sastra yang hanya menilai dan memutuskan sebuah karya sastra itu bermutu atau tidak. Teori ini mencakup makna yang sangat sempit.
7. Kritik sastra adalah seluruh pembicaraan karya sastra meliputi teori sastra, teori simbol-simbol sastra, teori mitos, dan teori genre sastra. (Northrop Frye)
Analisis: teori ini merupakan teori yang berdasarkan teori-teori yang telah ada, dan berbentuk tertulis. Jadi, teori ini merupakan teori yang mencakup makna yang sempit.

Batasan kritik sastra yang luas
1. Kritik sastra adalah usaha pembaca dalam mencari dan menentukan nilai hakiki karya sastra melalui proses pemahaman dan penafsiran yang sistematik, yang dinyatakan dalam bentuk tertulis. (Andre Hardjana)
Analisis: teori ini merupakan teori yang mencari dan menentukan nilai karya sastra baik atau buruk, memiliki dasar semantik dan berbentuk tertulis. Jadi, teori ini mengandung cakupan yang luas.
2. Kritik sastra adalah suatu kegiatan yang meliputi mencari kesalahan, memuji, menilai, membandingkan, dan menikmati suatu karya sastra. (Gayley dan Scott)
Analisis: teori ini merupakan teori yang tidak hanya sekedar mencari baik dan buruknya karya sastra ataupun membandingkan, tetapi juga memuji dan menikmati (apresiasi) karya sastra serta berbentuk tertulis. Jadi, teori ini mengandung cakupan yang luas.
3. Kritik sastra adalah studi yang berhubungan dengan pendefinisian, penggolongan, penguraian, dan penilaian suatu karya sastra. (MH Abrams)
Analisis: teori ini merupakan teori yang menilai karya sastra, dan menggolongkan dan mendefinisikan karya sastra serta berbentuk tertulis. Jadi, teori ini mengandung cakupan yang luas.
4. Kritik sastra adalah penghakiman yang dilakukan oleh seseorang yang ahli atau memiliki suatu kepandaian khusus untuk membedah karya sastra, memeriksa kebaikan-kebaikan dan cacat-celanya, dan menyatakan pendapatnya tentang hal tersebut. (William Henry Hudson).
Analisis: teori ini merupakan teori yang menilai karya sastra dengan cara menghakimi dan mengapresiasikannya, serta berbentuk tertulis. Jadi, teori ini memiliki cakupan yang luas.
5. Kritik Sastra adalah suatu kegiatan penilaian, interpretasi sebab belum ada ukuran yang baku dan ukuran itu sendiri tidak dapat disusun, penilaian dan interpretasi. (LL Duroche)
Analisis: teori ini merupakan teori yang bersifat menilai, tanpa dasar yang pasti, berbentuk apresiasi, serta berbentuk tertulis. Jadi, teori ini memiliki cakupan yang luas.
6. Kritik sastra adalah adalah menjelaskan nilai karya sastra dalam suatu cara yang khusus dengan memperhatikan deskripsinya, memberikan nilai estetik dari karakteristik kesatuannya yang utuh sebagai dasar penilaian atas baik buruknya suatu karya sastra. (Osborn)
Analisis: teori ini merupakan teori yang bersifat menilai, mengapresiasi karya sastra, menggunakan dasar-dasar nilai yang ada, dan berbentuk tertulis. Jadi, teori ini mengandung cakupan yang luas.
7. Kritik sastra merupakan studi sastra yang langsung berhadapan dengan karya sastra, secara langsung membicarakan karya sastra dengan penekanan pada penilaian. (Rene Wellek)
Analisis: teori ini merupakan teori yang bersifat menilai, dan berbentuk tertulis atu bisa juga berbentuk lisan. Teori ini mencakup pengertian yang luas.
8. Kritik sastra bukanlah dalam arti yang sempit: penyuntingan, penetapan teks, interpretasi, dan pertimbangan nilai; melainkan juga meliputi segala hal tentang: apakah kesusastraan itu, untuk apa kesusastraan itu, dan bagaimana hubungannya dengan masalah-masalah kemanusiaan yang lain. (Graham Hough)
Analisis: teori ini merupakan teori yang memiliki batasan dari teori kritik sastra tersebut tidak hanya penilaian sebuah karya sastra, tetapi juga mengkaji arti, manfaat, dan kaitan masalah kemanusiaan yang lain, serta berupa tulisan. Teori ini mencakup makna yang sangat luas.
9. Kritik sastra adalah pembicaraan atau tulisan yang membanding- bandingkan, menganalisis, menafsirkan, dan menilai karya sastra. (Panuti Sudjiman)
Analisis: teori ini merupakan teori yang mengandung makna membandingkan, bersifat menilai dengan mengartikan, dan dapat berbentuk lisan maupun tulisan. Jadi, teori ini mengandung cakupan makna yang luas.

Kritik sastra yang bentuknya tidak tertulis
Teori kritik sastra yang berupa lisan adalah teoriyang diungkapkan oleh Stolnist, Rene Wellek dan Panuti Sajiman. Namun, dalam teori yang diungkapkan ketiganya dapat berupa lisan dan tertulis.

Kritik sastra oleh Sutan Takdir Alisjahbana
Kritik sastra merupakan penelusuran dan evaluasi karya sastra yang berorientasi pragmatik berupa esai dan bertujuan untuk membangun hari depan sebagai kriteria utama.
Analisis: batasan teori kritik sastra Sutan Takdir Alisjahbana adalah kritik sastra yang berorientasi pragmatik yang menekankah bahwa sastrawan hendaknya lebih luas memasukkan bahan kehidupan ke dalam karya sastranya, bukan hanya masalah percintaan saja, melainkan hendaknya, tertulis karena berupa esai-esai. Teori ini memiliki batasan yang luas.

BERBICARA TIDAK RESMI CURHAT

BERBICARA TIDAK RESMI
CURHAT
Colin Widi W/K1208024

Curhat merupakan akronim dari curahan hati. Curahan hati adalah pembicaraan yang mengungkapkan isi hati manusia kepada teman bicara atau bisa juga melalui media tertentu. Tujuan dari kegiatan curhat adalah untuk berbagi cerita bersama untuk mendapatkan solusi dari masalah atau hanya untuk meringankan beban di dalam hati manusia, karena curhat mampu memperoleh kelegaan hati manusia dengan berbagi dengan sesama. Bagi teman, bicara manfaat curhat dapat berupa memperoleh pengalaman lisan dan mampu memberikan solusi untuk orang yang sedang memperoleh masalah.
Isi dari curahan hati biasanya berupa pengalaman pribadi, seperti kisah cinta, kegiatan sehari-hari, seputar lingkungan, pekerjaan, sekolah, pertemanan, keluarga, sengketa, rumah tangga, keuangan dan masih banyak lagi. Hal-hal tersebut atau isi dari curahan hati tersebut dapat masuk dalam kategori sedih, susah, senang, gembira, kecewa, malu, jatuh cinta, ambisius, marah, takut, dan sebagainya.
Biasanya orang memilih teman curhat dengan orang sebaya atau dengan orang yang sangat intim. Disamping terjaga kerahasiaannya dan kepercayaan masing-masing, juga karena bahasa yang digunakan menjadi luwes dan tidak terlihat canggung. Rasa canggung dapat diakibatkan karena teman bicara dianggap lebih tua, lebih terhormat, dan tidak akrab. Hal tersebut dapat mengakibatkan tidak semua curahan hati dapat tersampaikan dan membuat rasa sungkan dalam kegiatan curhat.
Orang yang ingin bercurhat tidak mengenal usia, mulai dari anak kecil, remaja, dewasa sampai orang tua sekalipun. Anak kecil biasanya menceritakan kejadian yang dialami di sekolah, seputar guru, teman, kejadian di dalam kelas, pekerjaan rumah, dan sebagainya. Atau juga menceritakan tentang kawan bermainnya. Biasanya anak kecil akan menceritakan kejadian yang dialami kepada orang tua, saudara atau teman sepermainan. Remaja biasanya mencurahkan isi hatinya pada teman atau orang tua. Isi curahan hatinya biasanya berupa pacar atau urusan percintaan, teman, sekolah dan keluarga. Untuk orang dewasa biasaya mencurahkan isi hatinya dengan teman atau istri/suaminya. Biasanya berisi tentang pekerjaan, rumah tangga, keluarga dan keuangan. Untuk orang tua biasanya bercurhat dengan teman atau anak-anak mereka, biasanya berisi tentang pasang surutnya kehidupan, kenangan masa lalu, keuangan dan warisan.
Curhat biasanya berbentuk cerita lisan, tapi bisa juga berbentuk tulisan. Sebagai cerita tertulis biasanya curhat berbentuk karya sastra, seperti puisi, cerita pendek, novel, pantun, dan lain-lain. Jadi, curhat mampu membuat orang menghasilkan karya sastra yang dapat dinikmati oleh orang lain. Dalam cerita lisan, curhat dapat menghasilkan karya sastra berupa lagu yang mampu menghibur ataupun membuat orang lain merasakan hal yang sama seperti isi dalam lagu tersebut. Sebagai cerita lisan curhat merupakan salah satu bentuk berbicara tidak resmi.
Curhat merupakan salah satu kegiatan berbicara tidak resmi. Yang termasuk berbicara tidak resmi yaitu curhat, ngobrol, pantun, membaca puisi, bercerita, gosip, bahasa sms (short messages service), wawancara, bermain peran/drama, dan lain-lain. Dikatakan tidak resmi karena curhat menggunakan kata-kata yang santai dan tidak terikat aturan tertentu. Penggunaan bahasa dalam kegiatan curhat menggunakan bahasa yang enak didengar dan sesuai dengan isi hati agar terdengar luwes dan dapat dimengerti serta ditangkap maksud pembicaraan dengan jelas oleh teman bicara. Dalam bahasa curhat pun memanfaatkan intonasi dan jeda yang sesuai serta pemaknaan kalimat tidak harus pakem.
Bahasa curhat selain santai, mudah di mengerti, luwes, memanfaatkan intonasi dan jeda, juga menggunakan ekspresi agar maksud di dalam hati dapat tersampaikan dengan maksimal kepada teman bicara. Biasanya orang yang sedang curhat lisan menggunakan mimik muka yang berbeda-beda. Seperti menangis bila sedih, tertawa bila lucu atau menggelikan, marah atau kesal bila tidak sesuai dengan keinginan hati atau mengecewakan, cemberut bila kecewa, tersipu-sipu atau merah merona bila jatuh cinta, gemetar bila ketakutan dan lain sebagainya. Bila menggunakan bahasa yang formal atau resmi, penyampaian maksud curhat menjadi tidak maksimal, terkesan kaku, terkesan sungkan, terlalu hati-hati, tidak leluasa dan canggung. Selain itu, akan menimbulkan mimik muka yang monoton dan membosankan. Teman bicara juga akan menjadi tidak respect terhadap apa yang kita ceritakan.
Dalam khasanah kebahasaan, keuntungan curhat adalah dapat memperkaya istilah kebahasaan dan menambah variasi dalam berbahasa. Akan tetapi, kerugian dari kegiatan curhat adalah merancukan tatanan bahasa resmi dan membuat orang mengacuhkan kaidah-kaidah bahasa resmi. Selain itu kaidah dalam bahasa resmi belum tentu dilakukan dan pemilihan diksinya juga kurang selektif.
Asalkan orang dapat membedakan penggunaan bahasa resmi dan tidak resmi, kegiatan curhat tidak akan mengganggu khasanah kebahasaan Indonesia.

PERPUSTAKAAN UMUM

PERPUSTAKAAN UMUM

colin w. w./K1208024

Pendahuluan

Perpustakaan merupakan suatu tempat kumpulan buku dan informasi yang disusun di ruang tertentu dilengkapi dengan perlengkapan erupa sarana dan prasarana, menurut aturan tertentu, diatur dan dilayankan oleh petugas (pustakawan) dan dipergunakan oleh para pemembaca/pemakai. Istilah perpustakaan ini sendiri berasal dari kata dasar pustaka, yang berarti buku, atau kitab. Perpustakaan umum adalah lembaga layanan informasi dan bahan bacaan kepada masyarakat, oleh karena adanya masyarakat umum (yang tidak dibedakan lapisan, golongan, lapangan pekerjaan, dan lain-lain) yang akan menggunakan dan menjadi sasaran layanan perpustakaan.

Perpustakaan umum merupakan gudang ilmu yang disediakan untuk rakyat. Karena perpustakaan umum menyediakan berbagai sumber ilmu pengetahuan dan teknologi untuk semua orang. Dalam Public Library Manifesto yang dikeluarkan oleh Unesco tahun 1950 antara lain dinyatakan bahwa perpustakaan umum  harus memberikan layanan dan sumber informasi  dan merupakan pintu gerbang ilmu pengetahuan untuk semua orang, terutama mereka yang terpinggirkan. Perpustakaan umum tersedia karena masyarakat umum, oleh khalayak umum dan untuk dinikmati masyarakat umum.

Perpustakaan umum ini terselenggara atas dasar kepentingan orang banyak yang dilakukan oleh pemerintah, dengan biaya yang berasal dari masyarakat misalnya pajak dan retribusi, yang harus dikembalikan kepada masyarakat melalui layanan umum tersebut.

Perpustakaan umum memiliki tujuan utama yaitu memberikan kesempatan bagi umum untuk membaca bahan pustaka yang dapat membantu meningkatkan mereka ke arah kehidupan yang lebih baik, menyediakan sumber informasi yang cepat, tepat, murah bagi masyarakat, serta membantu warga untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya sehingga yang bersangkutan akan bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya.

Seperti yang terungkap pada Undang-Undang Perpustakaan Nomor 43 Tahun 2007 pasal 22 tentang Perpustakaan Umum berbunyi:

  1. Perpustakaan umum diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, kecamatan, dan desa, serta dapat diselenggarakan oleh masyarakat.
  2. Pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota menyelenggarakan perpustakaan umum daerah yang koleksinya mendukung pelestarian hasil budaya daerah masing-masing dan memfasilitasi terwujudnya masyarakat pembelajar sepanjang hayat.
  3. Perpustakaan umum yang diselenggarakan oleh Pemerintah,
    pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, kecamatan, dan desa/kelurahan mengembangkan sistem layanan perpustakaan
    berbasis teknologi informasi dan komunikasi.
  4. Masyarakat dapat menyelenggarakan perpustakaan umum untuk memfasilitasi terwujudnya masyarakat pembelajar sepanjang hayat.
  5. Pemerintah, pemerintah provinsi, dan/atau kabupaten/kota melaksanakan layanan perpustakaan keliling bagi daerah yang belum terjangkau oleh layanan perpustakaan menetap.

Ciri Perpustakaan Umum

Perpustakaan Umum, yaitu perpustakaan yang memiliki ciri-ciri:

  1. dikelola oleh pemerintah daerah kabupaten/kota, kecamatan, desa dan kelurahan, atau oleh masyarakat atas prakarsa dan keinginan masyarakat setempat (swakarsa),
  2. dengan dukungan dana sendiri (swadana), dan dikelola (swakelola) oleh  masyarakat yang bersangkutan,
  3. koleksinya bersifat umum  meliputi seluruh jenis dan cabang Ilmu pengetahuan dalam sistem DDC antara kelompok 000 999,
  4. pemakainya seluruh lapisan masyarakat, tanpa membedakan latar belakang pendidikan, usia, agama, etnis, jenis kelamin, strata sosial, ekonomi dan budaya, bahkan pemakainya terutama ditujukan untuk masyarakat yang kurang beruntung ditinjau dari segi ekonomi termasuk para penyandang cacat (disabilities).

Mengelola Perpustakaan Umum

Syarat-syarat mengelola Perpustakaan Umum

  1. adanya kumpulan koleksi informasi  (bahan pustaka) yang tersusun rapi,
  2. menggunakan suatu sistem tertentu,
  3. dikelola dan dilayankan oleh petugas dengan persyaratan, kemampuan, pendidikan, keterampilan tertentu,
  4. ditempatkan pada tempat, ruang atau gedung tertentu, yang secara khusus dipergunakan untuk perpustakaan,
  5. adanya masyarakat pemakai yang memang diharapkan menjadi pemakai,
  6. adanya pedoman/peraturan atau ketentuan untuk menggunakan perpustakaan tersebut, dan
  7. adanya perlengkapan, fasilitas  dan sarana prasarana untuk menunjang pemakaian perpustakaan. Seperti  meja kursi baca, meja layanan, rak buku, lemari katalog dan sebagainya.

Semua  itu dimaksudkan agar tercipta suasana yang kondusif, nyaman, tenteram, tenang untuk membaca dan belajar. Di perpustakaan menghindari terjadinya ketidakteraturan atas penyelenggaraan perpustakaan.

Perpustakaan identik dengan buku, informasi, suasana belajar, ketenangan dan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Layanan Perpustakaan Umum

Empat unsur pokok yang selalu terdapat dalam setiap jenis perpustakaan adalah:

  1. gudang;
  2. alat-alat bibliografi dan pembantu (katalog, indeks, staf pembimbing atau penasihat);
  3. ruang untuk para pengunjung; dan
  4. ruang staf.

Layanan-layanan yang sebaiknya ada dalam Perpustakaan Umum:

  1. Layanan Sirkulasi

Layanan sirkulasi adalah layanan yang diperuntukkan untuk memonitor keluar masuknya buku dari pihak perpustakaan ke pengunjung prpustakaan. Sehingga, pengunjung dapat meminjam buku dari perpustakaan dan bisa dibawa pulang.

  1. Layanan Berkala

Layanan ini berfungsi untuk memperbarui dan mengetahui berita terkini, sehingga pengunjung dapat memperbarui berita-berita yang sedang hangat. Biasanya layanan ini berbentuk majalah, buletin dan koran.

  1. Layanan Referensi

Layanan referensi merupakan layanan yang digunakan untuk menambah referensi pengunjung. Biasanya buku-buku referensi tidak dapat dipinjam, tetapi dapat difotokopi untuk pengunjung yang menginginkan referensi yang tersedia dalam perpustakaan umum.

  1. Layanan Audio Visual

Layanan ini dapat berupa televisi atau dalam bentuk VCD yang bersifat keilmuan dan memperkaya khasanah ilmu masyarakat/pengunjung.

  1. Layanan Keanggotaan ( Registrasi )

Layanan keanggotaan ini bermaksud untuk merekrut masyarakat menjadi anggota sebuah perpustakaan umum. Serta, dapat digunakan untuk meminjam buku, atau penggunaan layanan-layanan lain yang terdapat di perpustakaan.

  1. Layanan Pemutaran Film

Layanan peutaran film ini disediakan untuk dapat menambah ilmu dan menyegarkan pikiran pengunjung dengan tidak hanya membaca tetapi juga dengan melihat dan mendengarkan. Selain menarik perhatian pengunjung, juga membuat pengunjung sering-sering datang ke perpustakaan.

Film ini dikhususkan untuk film-film bergenre keilmuan dan dapat membangun motivasi setiap pengunjung.

  1. Layanan Internet Gratis

Layanan internet gratis merupakan salah satu penarik pengunjung untuk sering berkunjung ke perpustakaan. Layanan ini mampu menambah khasanah ilmu pengunjung. Pengunjung juga dapat bertukar ilmu pengetahuan melalui dunia maya. Ini membuat pikiran masyarakat selalu up todate terhadap berita-berita yang terjadi di seluruh dunia.

  1. Layanan Hot Spot Area ( free access )

Sama seperti layanan internet gratis hanya saja layanan ini menggunakan alat pengunjung sendiri/laptop pengunjung sendiri. Sehingga pengunjung diberi kebebasan untuk menggunakan layanan ini.

  1. Layanan Taman Baca Anak

Layanan taman baca anak ini diperuntukkan untuk anak-anak yang didalamnya tidak hanya buku bacaan saja, tetapi juga berbagai alat permainan yang dapat mengasah otak anak. Anak-anak harus dibiasakan membaca sejak dini, karena anak-anak merupakan generasi muda yang akan membangun bangsa. Sejak kecil harus diperkaya dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat.

10.  Layanan Fotokopi

Layanan ini diperuntukkan pada pengunjung yang ingin memperbanyak buku referensi yang tidak dapat dibawa pulang.

Fungsi Perpustakaan Umum

Ada banyak fungsi yang dapat kita temukan dalam Perpustakaan umum, diantaranya:

  1. merupakan sumber segala informasi,
  2. merupakan fasilitas pendidikan nonformal, khususnya bagi anggota masyarakat yang tidak sempat mendapatkan kesempatan pendidikan formal,
  3. sarana atau tempat pengembangan seni budaya bangsa, melalui buku atau majalah,
  4. karena keragaman bahan bacaan yang disimpannya, perpustakaan sekaligus memberikan hiburan bagi pembacanya, dan
  5. merupakan penunjang yang penting artinya bagi suatu riset ilmiah, sebagai bahan acuan atau referensi.


DAFTAR PUSTAKA

Drajat. http://www.bit.lipi.go.id/masyarakat-literasi/index.php/keperpustakaan/44-peran-a-fungsi-perpustakaan (diakses pada Jumat, 26 Juni 2009 pukul 20.23)

http://forum.uin-suka.ac.id/ (diakses pada Jumat, 26 Juni 2009 pukul 8.15)

http://perpustakaan-jepara.blogspot.com/2008/02/jenis-layanan-perpustakaan-umum-kab.html (diakses pada Jumat, 26 Juni 2009 pukul 8.27)

http://pustaka.uns.ac.id/ (diakses pada Jumst, 26 Juni 2009 pukul 20.35)

http://www.madina-sk.com/ (diakses pada Jumat, 26 Juni 2009 pukul 8.09)

Mussofa. http://massofa.wordpress.com/2008/01/17/pelayanan-perpustakaan-bag-1/ (diakses pada Jumat, 26 Juni 2009 pukul 8.05)

Tugas Dasar-dasar Berbicara

TUGAS DASAR-DASAR BERBICARA

colin w. w/K1208024

  1. Proses keterampilan berbahasa khususnya keterampilan berbicara pada manusia yang normal.

Proses keterampilan berbicara dimulai sejak kecil. Ketika manusia belajar dari mendengar atau menyimak kemudian berbicara sesuai apa yang ia dengar, kemudian dilanjutkan dengan dengan belajar membaca dan menulis. Berbicara sendiri merupakan aspek yang sangat mendukung dalam proses komunikasi secara lisan. Artinya, dengan belajar berbicara maka belajar berkomunikasi. Manusia sendiri setiap harinya harus berkomunikasi dengan manusia lain, maka aspek berbicara sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia.

Manusia kemudian dapat berkomunikasi dengan bahasa dan berbicara agar maksud yang ingin disampaikan dapat tersampaikan kepada rekan bicara. Tahap ini akan berlanjut dengan berbicara untuk menyampaikan ide atau gagasan kepada pendengar di muka umum. Tahap ini ada beberapa orang yang mengalami kendala. Alasan terbesar dari kondisi ini adalah karena kurang percaya diri yang mengakibatkan demam panggung.

Bukti proses keterampilan berbicara ini ditunjukkan ketika seseorang senang mendengarkan atau menyimak, membaca dan menulis maka kemampuan berbicaranya akan baik, karena menguasai bahan yang cukup untuk dibicarakan atau didiskusikan dengan rekan bicara. Apalagi disertai dengan kepercayaan diri dan pengalaman yang cukup, maka seseorang tersebut akan dengan fasih berbicara di depan umum tanpa canggung. Bahkan seseorang yang pandai berbicara di depan umum akan mampu mempengaruhi pendengarnya dan pekerjaan yang cocok dengannya adalah sebagai orator.

  1. Dalam menyimak, berbicara, membaca, menulis dalam komunikasi lisan.

Dalam komunikasi lisan diperlukan aspek menyimak, berbicara, membaca dan menulis, karena informasi-informasi penting dapat diperoleh dengan menyimak suatu kejadian di sekitar, berani berbicara ketika memiliki ilmu atau bahan yang cukup, membaca dari media dan buku-buku, serta menulis ide-ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran. Dalam berkomunikasi dengan rekan bicara diperlukan dasar-dasar dan bukti-bukti, apalagi tentang berita terkini. Untuk itu segala jenis pengetahuan dapat didapat dengan menyimak, mampu berbicara untuk mengekspresikan ide secara lisan, membaca, dan mampu menuliskan ide secara tertulis.

Bukti yang dapat ditunjukkan adalah ketika seorang yang sering menyimak, berbicara, membaca dan menulis pengetahuannya akan luas dan dapat dijadikan bahan berkomunikasi secara lisan. Seorang presenter kuis tentang pengetahuan misalnya, tentu mereka akan senang mendngarkan, berbicara, membaca dan menulis. Mereka memperoleh ilmu dari kemampuan dasar berbahasa mereka. Dan kemampuan-kemampuan tersebut dapat mendukung mereka dalam berkomunikasi lisan. Ini juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari kita.

  1. Keterampilan berbahasa menunjang Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Tri Dharma Perguruan Tinggi mencakup pendidikan dan pengajaran, pengabdian pada masyarakat dan penelitian. Dalam pendidikan dan pengajaran sudah pasti menggunakan aspek-aspek keterampilan berbahasa seperti menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Dalam proses belajar mengajar tentu ada interaksi antara pengajar dan peserta didik, pengajar berbicara dan peserta didik menyimak. Ada proses diskusi dan tanya jawab didalam proses ini. Selain itu ada kegiatan membaca dan menulis. Pengajar membaca materi kemudian disampaikan pada peserta didik dengan berbicara. Sedangkan peserta didik menulis dan menyimak apa yang disampaikan pengajar. Selain proses belajar pembelajaran, pengembangan pendidikan dan pengajaran lainnya juga mencakup empat aspek keterampilan berbahasa. Hal ini adalah bukti bahwa keterampilan berbahasa menunjang Tri Dharma Perguruan Tinggi pada pendidikan dan pengajaran.

Keterampilan berbicara juga membantu dalam pengabdian kepada masyarakat. Sebagai peserta didik yang siap mngabdi kepada masyarakat kita harus menggunakan ilmu kita untuk kepentingan masyarakat luas. Dengan cara memberikan informasi-informasi yang kemudian disalurkan kepada masyarakat. Dalam penyampaian informasi kita menggunakan aspek berbicara, masyarakat akan menyimak keterangan dari kita. Bagi masyarakat yang masih buta huruf, kita dapat ajarkan dengan membaca dan menulis. Selain hal tersebut di atas masih banyak lagi yang dapat kita abdikan kepada masyarakat melalui empat aspek keterampilan berbahasa.

Yang ketiga tri dharma perguruan tinggi adalah penelitian. Dalam penelitian tentu saja menggunakan empat aspek keterampilan berbahasa. Kita mengetahui dasar teori suatu penelitian dengan menyimak dan membaca referensi. Membuat laporan dari hasil penelitian dengan cara menulis dan mempresentasikan hasil penelitian dengan berbicara. Agar hasil penelitian dapat tersampaikan kepada masyarakat luas.

  1. 4. a.  Faktor yang menunjang keterampilan berbicara.

Keterampilan berbicara seseorang sangat dipengaruhi oleh dua faktor penunjang utama yaitu internal dan eksternal. Faktor internal adalah segala sesuatu potensi yang ada di dalam diri orang tersebut, baik fisik maupun nonfisik (psikis). Faktor fisik adalah menyangkut dengan kesempurnaan organ-organ tubuh yang digunakan didalam berbicara misalnya, pita suara, lidah, gigi, dan bibir, sedangkan faktor nonfisik diantaranya adalah: kepribadian (kharisma), karakter, temparamen, bakat (talenta), cara berfikir dan tingkat intelegensia. Sedangkan faktor eksternal misalnya tingkat pendidikan, kebiasaan, dan lingkungan pergaulan.

b.   Selain faktor yang ada seperti pada nomor 4. a, faktor yang lebih menunjang keterampilan berbicara yang menonjol.

Selain faktor-faktor di atas, terdapat pula faktor yang lebih menonjol. Walaupun sudah memiliki faktor penunjang utama baik internal maupun eksternal yang baik, kemampuan atau keterampilan berbicara yang baik dapat dimiliki dengan jalan megasah dan mengolah serta melatih seluruh potensi yang ada.

Pada dasarnya seorang pembicara yang handal adalah seseorang yang ketika ia berbicara baik dalam komuniasi formal (presentasi, ceramah, dll.) maupun informal (pergaulan) memiliki daya tarik yang memesona dengan isi pembicaraan yang efektif (sistematis, benar/tepat, singkat dan jelas dengan bahasa yang tepat) sehingga orang yang mendengarkannya dapat mengerti dengan jelas dan tergugah perasaannya.

5.   Berbahasa khususnya keterampilan berbicara meningkatkan taraf hidup manusia.

Berbahasa khususnya keterampilan berbicara dapat meningkatkan taraf hidup manusia. Seseorang yang pandai berbicara akan disegani oleh masyarakat terutama pada orang yang bicaranya bukan omong kosong belaka. Rata-rata seorang pemimpin harus dapat berbicara terutama berbicara kepada masyarakat. Kemampuan berbicara menunjukkan kemampuan dalam berkomunikasi kepada masyarakat. Untuk itu seorang pemimpin dalam bertutur harus dilandasi dengan bukti yang nyata. Seorang pembicara juga harus bisa membuat pendengar percaya dengan apa yang ia katakan.

Kemampuan berbicara mampu menghasilkan materi. Rata-rata pekerjaan memerlukan keterampilan berbicara, seperti pemimpin, presenter, orator, dan lain-lain. Selain materi, kemampuan berbicara mampu membuat seseorang disegani dan menjadi amanah.

UJIAN NASIONAL SEBAGAI SYARAT MASUK PERGURUAAN TINGGI

Colin Widi Widawati

K1208024

UJIAN NASIONAL SEBAGAI SYARAT MASUK PERGURUAAN TINGGI

PENDAHULUAN

Ujian Nasional bagi sebagian besar siswa baik Sekolah Dasar/sederajat, Sekolah Menengah Pertama/sederajat maupun Sekolah Menengah Atas/sederajat merupakan momok yang harus mereka jalani untuk dapat melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Bagi siswa-siswi, hal ini merupakan sebuah beban yang sangat berat. Mereka telah belajar selama bertahun-tahun tetapi usaha mereka hanya dihargai selama beberapa hari saja. Orang tua dan guru juga mencemaskan hal ini.

Yang sangat terbebani lagi adalah siswa Sekolah Menengah Atas dan sederajat. Ujian nasional hanya untuk menentukan lulus atau tidaknya dari Sekolah Menengah Atas tersebut. Apakah peserta didik mampu melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi atau tidak. Semua orang pun tahu, bahwa pelaksanaan Ujian Nasional mengalami beberapa kecurangan. Kecurangan bisa dari pihak siswa, guru, ataupun sekolah. Dengan kata lain nilai ujian nasional tidaklah 100% murni. Ini sangat merugikan pihak perguruan tinggi bila hasil ujian nasional hanya manipulasi. Ujian Nasional dan seleksi masuk perguruan tinggi begitu berbeda. Ujian nasional bisa saja digunakan sebagai ajang untuk bahu membahu agar nama diri sendiri, orang tua, sekolah dan wilayah tidak tercemar karena ada beberapa siswa yang tidak lulus. Namun, untuk seleksi penerimaan masuk perguruan tinggi benar-benar memperebutkan salah satu kursi di Perguruan Tinggi.

Untuk itu, isu yang semakin merebak bahwa nilai ujian nasional akan menjadi syarat masuk perguruan tinggi akan menjadi sebuah kontroversi tersendiri. Ini akan merugikan pihak perguruan tinggi. Nilai Ujian Nasional diragukan kevalidannya. Maka, ujian nasional tidak perlu dimasukkan sebagai syarat masuk perguruan tinggi.

MENAKAR UJIAN NASIONAL

Ujian nasional merupakan syarat mutlak yang ditempuh siswa untuk lulus dari suatu intansi pendidikan. Ujian nasional sering dianggap sebagai satu-satunya pengukur hasil pendidikan. Padahal ujian nasional hanya salah satu metode eveluasi. Proses belajar selama bertahun-tahun serasa diabaikan hanya karena ujian nasional saja yang menentukan kelulusan peserta didik. Proses belajar mengajar selama bertahun-tahunlah yang seharusnya dijadikan tolok ukur kelulusan siswa. Ujian nasional hanyalah salah satu alat saja yang dijadikan evaluasi dalam belajar mengajar.

Suatu ketakutan tersendiri bagi siswa untuk menjalani ujian nasional. Banyak tekanan-tekanan yang timbul akibat ujian nasional. Siswa banyak yang mencari celah agar dapat lulus dengan mudah. Baik dari jalan positif maupun negatif. Jalan positif misalnya menggiatkan belajar, ikut bimbingan belajar, belajar kelompok, semakin taat beribadah dan berdoa kepada Tuhan. Jalan negatif misalnya, dengan mencontek, kerja sama saat ujian, membuka catatan dan lain-lain. Tidak hanya siswa saja yang mengupayakan kelulusan siswa, guru dan pihak-pihak terkait juga melakukan tindakan yang mampu mempertahankan gengsi sekolah. Guru misalnya, membantu para siswa mengerjakan soal-soal ujian, atau pengawas ujian yang membiarkan tindakan curang siswa seakan-akan mereka tidak tahu apa-apa. Akibatnya, walaupun ada segelintir siswa yang murni mengerjakan soal sendiri dengan kemampuannya tanpa bantuan siapapun, tetap saja citra ujian nasional yang murni, tercoreng. Selain itu juga faktor teknis mengakibatkan tidak maksimalnya nilai ujian nasional, seperti jawaban siswa yang tidak terdeteksi pada komputer pembaca jawaban pada Lembar Jawaban Komputer (LJK). Ini dapat merugikan siswa yang berjuang untuk menuntaskan pendidikannya selama tiga tahun terakhir.

Selain terjadi banyak kecurangan, ujian nasional juga mempunyai tujuan yang berbeda dengan seleksi penerimaan mahasiswa baru untuk perguruan tinggi. Hal ini patut dijadikan wacana yang dapat mengubah paradigma dari ujian nasional itu sendiri.

NILAI UJIAN SEBAGAI ACUAN MASUK PERGURUAN TINGGI

Akhir-akhir ini sering kita mendengar isu bahwa ujian nasional akan dijadikan acuan masuk pergurun tinggi. Menurut Arif Rahman ketika ada maksud hasil Ujian Nasional menjadi syarat masuk perguruan tinggi negeri, ada kerancuan berpikir tentang makna evaluasi. Seleksi masuk perguruan tinggi memiliki maksud dan tujuan yang berbeda dengan Ujian Nasional. Tes Ujian Nasional merupakan achievement test yang mengukur tingkat keberhasilan pembelajaran, tes masuk ke jenjang pendidikan lebih tinggi merupakan predictive test untuk mengukur kemampuan calon menjalani proses pendidikan.

Pendapat lain dari Aktivis Masyarakat Peduli Pendidikan Indonesia Eko Purwono juga mengatakan jika Ujian Nasional merupakan alat untuk mengevaluasi keberhasilan siswa di akhir proses belajar pada pendidikan menengah atas, seleksi masuk Perguruan Tinggi merupakan proses menyaring sejumlah siswa yang terbaik di antara para pendaftar.

Doni Koesoema A, berpendapat Ujian Nasional bersifat sumatif, bertujuan menilai prestasi individual siswa guna menentukan apakah seorang individu memiliki kompetensi yang disyaratkan setelah melewati proses pendidikan dalam waktu tertentu. Ambang kelulusan Ujian Nasional ditentukan melalui kriteria penguasaan materi (criterion-reference test), berakibat langsung pada nasib siswa (high stake testing). Siswa lulus atau tidak lulus. Adapun sifat tes masuk Perguruan Tinggi adalah formatif untuk ”mendiskriminasi” siswa berdasarkan kompetensi dan potensi akademik yang tujuannya menjaring calon yang memiliki kelayakan dan kemampuan untuk menyelesaikan tugas dan tuntutan di Perguruan Tinggi. Karena itu, tes masuk Perguruan Tinggi bersifat normatif (norm-reference testing), tidak hanya mendasarkan diri pada penguasaan materi, tetapi memeringkat siswa dan membatasinya sesuai jumlah kursi.

Jelas sekali disebutkan di atas, bahwa ujian nasional dan seleksi masuk perguruan tinggi berbeda. Ujian nasional sering diibaratkan sebagai ajang kerja sama untuk membantu teman agar dapat lulus bersama. Sedangkan, seleksi masuk perguruan tinggi merupakan suatu ajang eliminasi untuk saling berebut satu kursi di bangku kuliah. Persaingan akan benar-benar terlihat diseleksi penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi.

Banyak sekali persoalan yang mempengaruhi bahwa ujian nasional belum dapat dijadikan alat yang tepat untuk syarat masuk perguruan tinggi, selain hasilnya kurang valid ada juga persoalan lain. Seperti yang diungkaapkan oleh Doni Koesoema A, bahwa tidak hanya kevalidan hasil saja, tetapi juga peningkatan kualitas soal, penarikan kesimpulan hasil Ujian Nasional, reliabilitas item Ujian Nasional untuk benar-benar mengukur kompetensi yang dibutuhkan dalam proses seleksi masuk Perguruan Tinggi itulah yang pertama-tama perlu dibenahi.

Pembenahan tersebut tidak dapat dilakukan secara cepat. Perlu waktu yang lama untuk bisa mengubah paradigma ujian nasional dan kepercayaan dari pihak perguruan tinggi.

Untuk saat ini, memang seleksi penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi disendirikan dengan nilai hasil ujian nasional. Karena memang terdapat perbedaan di dalam tujuannya. Serta melihat fakta di lapangan bahwa ujian nasional belum dapat dipercaya sepenuhnya untuk menjadi acuan sebagai syarat penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi.

KESIMPULAN

Dalam pelaksanaan ujian nasional di tingkat Sekolah Menengah Atas atau sederajat banyak terdapat kecurangan yang mengakibatkan nilai ujian tidak benar-benar murni. Jadi perlu adanya peninjauan ulang untuk menetapkan bahwa nilai ujian nasional sebagai syarat acuan masuk perguruan tinggi.

Tes ujian nasional dan tes seleksi masuk perguruan tinggi merupakan dua tes yang berbeda arah dan tujuannya. Perlu banyak pertimbangan yang harus diperhitungkan agar nilai ujian nasional menjadi layak untuk bisa dijadikan acuan masuk perguruan tinggi.


DAFTAR PUSTAKA

Arif Rahman. http://m.kompas.com/news/read/data/2009.04.21.0345502

Doni Koesoema A. http://www.ahmadheryawan.com/opini-media/pendidikan/823-mengubah-paradigma-un.pdf

Eko Purwono. http://www.diknas.go.id/headline.php?id=44

http://navarinkarim.blogspot.com/2009/04/penantang-un-sebagai-prasyarat-masuk.html

Ditulis dalam Uncategorized. 1 Comment »

DASAR-DASAR BERBICARA

Colin widi w/K1208024

DASAR-DASAR BERBICARA

  1. Pendahuluan

Berbicara merupakan salah satu kemampuan yang dimiliki oleh manusia. Dengan berbicara manusia dapat berkomunikasi dengan manusia lainnya. Berbicara selalu tidak jauh-jauh dengan bahasa, karena bahasa mrupakan unsur penting dalam berkomunikasi dengan manusia yang lain. Komunikasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya komunikasi verbal dan komunikasi non verbal. Komunikasi verbal menggunakan bahasa sebagai sarana, sedangkan komunikasi non verbal menggunakan sarana gerak-gerik seperti warna, gambar, bunyi bel, dan sebagainya. Komunikasi verbal dianggap paling sempurna, efisien, dan efektif.

Komunikasi lisan sering terjadi dalam kehidupan manusia, misalnya dialog dalam lingkungan keluarga, percakapan antara tetangga, percakapan antara pembeli dan penjual di pasar, dan sebagainya. Contoh lainnya : percakapan anggota keluarga; percakapan ibu dan anak; percakapan bertelepon, dan sebagainya.

Interaksi antara pembicara dan pendengar ada yang langsung dan ada pula yang tidak langsung. Interaksi langsung dapat bersifat dua arah atau multi arah, sedangkan interaksi tak langsung bersifat searah. Pembicara berusaha agar pendengar memahami atau menangkap makna apa yang disampaikannya. Komunikasi lisan dalam setiap contoh berlangsung dalam waktu, tempat, suasana yang tertentu pula. Sarana untuk menyampaikan sesuatu itu mempergunakan bahasa lisan.

  1. Rumusan Masalah

Dalam mengangkat tema ini dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

1. apa pengertian, peranan, dan tujuan dari berbicara?

2. apa saja yang menjadi unsur berbicara dan prosedur kegiatan berbicara?

3. jelaskan konsep dasar berbicara?

4. apa saja jenis-jenis berbicara?

  1. Tujuan

Tujuan pembuatan makalah ini adalah:

1. untuk mengetahui pengertian, peranan, dan tujuan dari berbicara,

2. untuk mengetahui apa saja yang menjadi unsur berbicara dan prosedur kegiatan berbicara,

3. untuk mengetahui bagaimana konsep dasar berbicara, dan

4. untuk mengetahui jenis-jenis berbicara.

  1. Pembahasan

1. Pengertian dan Tujuan Berbicara

Ada beberapa pengertian berbicara yang dicantumkan dalam blog makalahdanskripsi.blogspot. com, antara lain:

a. Berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekpresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan.

b. Berbicara adalah suatu alat untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau penyimak.

c. Berbicara adalah proses individu berkomunikasi dengan lingkungan masyarakat untuk menyatakan din sebagai anggota masyarakat.

d. Berbicara adalah ekspresi kreatif yang dapat memanifestasikan kepribadiannya yang tidak sekedar alat mengkomunikasikan ide belaka, tetapi juga alat utama untuk menciptakan dan memformulasikan ide baru.

e. Berbicara ada!ah tingkah laku yang dipelajari di Iingkungan keluarga, tetangga, dan lingkungan lainnya disekitar tempatnya hidup sebelum masuk sekolah.

Tujuan berbicara adalah untuk menginformasikan, untuk melaporkan, sesuatu hal pada pendengar. Sesuatu tersebut dapat berupa, menjelaskan sesuatu proses, menguraikan, menafsirkan, atau menginterpretasikan sesuatu hal, memberi, menyebarkan, atau menanamkan pengetahuan, menjelaskan kaitan, hubungan, relasi antara benda, hal, atau peristiwa.

2. Unsur Berbicara dan Prosedur Kegiatan Berbicara

Unsur Dasar Berbicara

Di dalam kegiatan berbicara terdapat lima unsur yang terlibat yaitu:

a. Pembicara,

b. Isi pembicaraan,

c. Saluran,

d. Penyimak, dan

e. Tanggapan penyimak.

Prosedur Kegiatan Berbicara

a. Memilih pokok pembicaraan yang menarik hati.

b. Membatasi pokok pembicaraan.

c. Mengumpulkan bahan-bahan.

d. Menyusun bahan (pendahuluan, isi, kemampuan)

3. Konsep Dasar Berbicara

Kemampuan berbicara siswa bervariasi, mulai dari taraf baik atau lancar; sedang; gagap atau kurang. Kenyataan tersebut sebaiknya dijadikan landasan berbicara di sekolah. Pengajaran berbicara pun harus berlandaskan konsep dasar berbicara sebagai sarana berkomunikasi.

Konsep dasar berbicara sebagai sarana berkomunikasi mencakup sembilan hal, yakni:

a. berbicara dan menyimak adalah suatu kegiatan resiprokal,

b. berbicara adalah proses individu berkomunikasi,

c. berbicara adalah ekspresi kreatif,

d. berbicara adalah tingkah laku,

e. berbicara adalah tingkah laku yang dipelajari,

f. berbicara dipengaruhi kekayaan pengalaman,

g. berbicara sarana memperluas cakrawala,

h. kemampuan linguistik dan lingkungan berkaitan erat,

i. berbicara adalah pancaran kepribadian. (Logan dkk., 1972:104-105).

4. Jenis-Jenis Berbicara

Bila diperhatikan mengenai bahasa pengajaran akan kita dapatkan berbagai jenis berbicara. Antara lain : diskusi, percakapan, pidato menjelaskan, pidato menghibur, ceramah, dan sebagainya.

Berdasarkan pengamatan minimal ada lima landasan yang digunakan dalam mengklasifikasi berbicara. Kelima landasan tersebut adalah :

a. situasi,

Aktivitas berbicara terjadi dalam suasana, situasi, dan lingkungan tertentu. Situasi dan lingkungan itu dapat bersifat formal atau resmi, mungkin pula bersifat informal atau tak resmi. Dalam situasi formal pembicara dituntut berbicara secara formal, sebaliknya dalam situasi tak formal, pembicara harus berbicara secara tak formal pula. Kegiatan berbicara yang bersifat informal banyak dilakukan dalam kehidupan manusia sehari-hari.

Jenis-jenis kegiatan berbicara informal meliputi:

1) tukar pengalaman,

2) percakapan,

3) menyampaikan berita,

4) menyampaikan pengumuman,

5) bertelepon, dan

6) memberi petunjuk (Logan, dkk., 1972 : 108).

Sedangkan kegiatan berbicara yang bersifat formal meliputi :

1) ceramah,

2) perencanaan dan penilaian,

3) interview,

4) prosedur parlementer, dan

5) bercerita (Logan, dkk., 1972 : 116).

b. tujuan,

Akhir pembicaraan, pembicara menginginkan respons dari pendengar. Pada umumnya tujuan orang berbicara adalah untuk menghibur, menginformasi-kan, menstimulasikan, meyakinkan, atau menggerakkan pendengarnya.

c. metode penyampaian,

Ada empat cara yang bisa digunakan orang dalam menyampaikan pembicaraannya, antara lain:

1) penyampaian secara mendadak,

2) penyampaian berdasarkan catatan kecil,

3) penyampaian berdasarkan hafalan, dan

4) penyampaian berdasarkan naskah.

d. jumlah penyimak, dan

Komunikasi lisan melibatkan dua pihak, pendengar dan pembicara. Jumlah peserta yang berfungsi sebagai penyimak dalam komunikasi lisan dapat bervariasi misalnya satu orang, beberapa orang (kelompok kecil), dan banyak orang (kelompok besar).

e. peristiwa khusus.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering menghadapi berbagai kegiatan. Sebagian dari kegiatan itu dikategorikan sebagai peristiwa khusus, istimewa, atau spesifik. Contoh kegiatan khusus itu adalah ulang tahun, perpisahan, perkenalan, pemberian hadiah. Berdasarkan peristiwa khusus itu berbicara atau berpidato dapat digolongkan atas enam jenis,

1) pidato presentasi,

2) pidato penyambutan,

3) pidato perpisahan,

4) pidato jamuan (makan malam),

5) pidato perkenalan, dan

6) pidato nominasi (mengunggulkan). (Logan dkk., 1972 : 127).

  1. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah diatas adalah berbicara merupakan kemampuan manusia yang dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan manusia lain. Tujuannya adalah untuk menginformasikan, untuk melaporkan, sesuatu hal pada pendengar.


DAFTAR PUSTAKA

http://pbsindonesia.fkip-uninus.org/media.php?module=detailmateri&id=47

http://makalahdanskripsi.blogspot.com/2009/03/pengertian-berbicara.html

Logan, dkk. 1972.

<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>

DASAR-DASAR BERBICARA

  1. Pendahuluan

Berbicara merupakan salah satu kemampuan yang dimiliki oleh manusia. Dengan berbicara manusia dapat berkomunikasi dengan manusia lainnya. Berbicara selalu tidak jauh-jauh dengan bahasa, karena bahasa mrupakan unsur penting dalam berkomunikasi dengan manusia yang lain. Komunikasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya komunikasi verbal dan komunikasi non verbal. Komunikasi verbal menggunakan bahasa sebagai sarana, sedangkan komunikasi non verbal menggunakan sarana gerak-gerik seperti warna, gambar, bunyi bel, dan sebagainya. Komunikasi verbal dianggap paling sempurna, efisien, dan efektif.

Komunikasi lisan sering terjadi dalam kehidupan manusia, misalnya dialog dalam lingkungan keluarga, percakapan antara tetangga, percakapan antara pembeli dan penjual di pasar, dan sebagainya. Contoh lainnya : percakapan anggota keluarga; percakapan ibu dan anak; percakapan bertelepon, dan sebagainya.

Interaksi antara pembicara dan pendengar ada yang langsung dan ada pula yang tidak langsung. Interaksi langsung dapat bersifat dua arah atau multi arah, sedangkan interaksi tak langsung bersifat searah. Pembicara berusaha agar pendengar memahami atau menangkap makna apa yang disampaikannya. Komunikasi lisan dalam setiap contoh berlangsung dalam waktu, tempat, suasana yang tertentu pula. Sarana untuk menyampaikan sesuatu itu mempergunakan bahasa lisan.

  1. Rumusan Masalah

Dalam mengangkat tema ini dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

1. apa pengertian, peranan, dan tujuan dari berbicara?

2. apa saja yang menjadi unsur berbicara dan prosedur kegiatan berbicara?

3. jelaskan konsep dasar berbicara?

4. apa saja jenis-jenis berbicara?

  1. Tujuan

Tujuan pembuatan makalah ini adalah:

1. untuk mengetahui pengertian, peranan, dan tujuan dari berbicara,

2. untuk mengetahui apa saja yang menjadi unsur berbicara dan prosedur kegiatan berbicara,

3. untuk mengetahui bagaimana konsep dasar berbicara, dan

4. untuk mengetahui jenis-jenis berbicara.

  1. Pembahasan

1. Pengertian dan Tujuan Berbicara

Ada beberapa pengertian berbicara yang dicantumkan dalam blog makalahdanskripsi.blogspot. com, antara lain:

a. Berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekpresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan.

b. Berbicara adalah suatu alat untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau penyimak.

c. Berbicara adalah proses individu berkomunikasi dengan lingkungan masyarakat untuk menyatakan din sebagai anggota masyarakat.

d. Berbicara adalah ekspresi kreatif yang dapat memanifestasikan kepribadiannya yang tidak sekedar alat mengkomunikasikan ide belaka, tetapi juga alat utama untuk menciptakan dan memformulasikan ide baru.

e. Berbicara ada!ah tingkah laku yang dipelajari di Iingkungan keluarga, tetangga, dan lingkungan lainnya disekitar tempatnya hidup sebelum masuk sekolah.

Tujuan berbicara adalah untuk menginformasikan, untuk melaporkan, sesuatu hal pada pendengar. Sesuatu tersebut dapat berupa, menjelaskan sesuatu proses, menguraikan, menafsirkan, atau menginterpretasikan sesuatu hal, memberi, menyebarkan, atau menanamkan pengetahuan, menjelaskan kaitan, hubungan, relasi antara benda, hal, atau peristiwa.

2. Unsur Berbicara dan Prosedur Kegiatan Berbicara

Unsur Dasar Berbicara

Di dalam kegiatan berbicara terdapat lima unsur yang terlibat yaitu:

a. Pembicara,

b. Isi pembicaraan,

c. Saluran,

d. Penyimak, dan

e. Tanggapan penyimak.

Prosedur Kegiatan Berbicara

a. Memilih pokok pembicaraan yang menarik hati.

b. Membatasi pokok pembicaraan.

c. Mengumpulkan bahan-bahan.

d. Menyusun bahan (pendahuluan, isi, kemampuan)

3. Konsep Dasar Berbicara

Kemampuan berbicara siswa bervariasi, mulai dari taraf baik atau lancar; sedang; gagap atau kurang. Kenyataan tersebut sebaiknya dijadikan landasan berbicara di sekolah. Pengajaran berbicara pun harus berlandaskan konsep dasar berbicara sebagai sarana berkomunikasi.

Konsep dasar berbicara sebagai sarana berkomunikasi mencakup sembilan hal, yakni:

a. berbicara dan menyimak adalah suatu kegiatan resiprokal,

b. berbicara adalah proses individu berkomunikasi,

c. berbicara adalah ekspresi kreatif,

d. berbicara adalah tingkah laku,

e. berbicara adalah tingkah laku yang dipelajari,

f. berbicara dipengaruhi kekayaan pengalaman,

g. berbicara sarana memperluas cakrawala,

h. kemampuan linguistik dan lingkungan berkaitan erat,

i. berbicara adalah pancaran kepribadian. (Logan dkk., 1972:104-105).

4. Jenis-Jenis Berbicara

Bila diperhatikan mengenai bahasa pengajaran akan kita dapatkan berbagai jenis berbicara. Antara lain : diskusi, percakapan, pidato menjelaskan, pidato menghibur, ceramah, dan sebagainya.

Berdasarkan pengamatan minimal ada lima landasan yang digunakan dalam mengklasifikasi berbicara. Kelima landasan tersebut adalah :

a. situasi,

Aktivitas berbicara terjadi dalam suasana, situasi, dan lingkungan tertentu. Situasi dan lingkungan itu dapat bersifat formal atau resmi, mungkin pula bersifat informal atau tak resmi. Dalam situasi formal pembicara dituntut berbicara secara formal, sebaliknya dalam situasi tak formal, pembicara harus berbicara secara tak formal pula. Kegiatan berbicara yang bersifat informal banyak dilakukan dalam kehidupan manusia sehari-hari.

Jenis-jenis kegiatan berbicara informal meliputi:

1) tukar pengalaman,

2) percakapan,

3) menyampaikan berita,

4) menyampaikan pengumuman,

5) bertelepon, dan

6) memberi petunjuk (Logan, dkk., 1972 : 108).

Sedangkan kegiatan berbicara yang bersifat formal meliputi :

1) ceramah,

2) perencanaan dan penilaian,

3) interview,

4) prosedur parlementer, dan

5) bercerita (Logan, dkk., 1972 : 116).

b. tujuan,

Akhir pembicaraan, pembicara menginginkan respons dari pendengar. Pada umumnya tujuan orang berbicara adalah untuk menghibur, menginformasi-kan, menstimulasikan, meyakinkan, atau menggerakkan pendengarnya.

c. metode penyampaian,

Ada empat cara yang bisa digunakan orang dalam menyampaikan pembicaraannya, antara lain:

1) penyampaian secara mendadak,

2) penyampaian berdasarkan catatan kecil,

3) penyampaian berdasarkan hafalan, dan

4) penyampaian berdasarkan naskah.

d. jumlah penyimak, dan

Komunikasi lisan melibatkan dua pihak, pendengar dan pembicara. Jumlah peserta yang berfungsi sebagai penyimak dalam komunikasi lisan dapat bervariasi misalnya satu orang, beberapa orang (kelompok kecil), dan banyak orang (kelompok besar).

e. peristiwa khusus.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering menghadapi berbagai kegiatan. Sebagian dari kegiatan itu dikategorikan sebagai peristiwa khusus, istimewa, atau spesifik. Contoh kegiatan khusus itu adalah ulang tahun, perpisahan, perkenalan, pemberian hadiah. Berdasarkan peristiwa khusus itu berbicara atau berpidato dapat digolongkan atas enam jenis,

1) pidato presentasi,

2) pidato penyambutan,

3) pidato perpisahan,

4) pidato jamuan (makan malam),

5) pidato perkenalan, dan

6) pidato nominasi (mengunggulkan). (Logan dkk., 1972 : 127).

  1. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah diatas adalah berbicara merupakan kemampuan manusia yang dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan manusia lain. Tujuannya adalah untuk menginformasikan, untuk melaporkan, sesuatu hal pada pendengar.


DAFTAR PUSTAKA

http://pbsindonesia.fkip-uninus.org/media.php?module=detailmateri&id=47

http://makalahdanskripsi.blogspot.com/2009/03/pengertian-berbicara.html

Logan, dkk. 1972.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.