APRESIASI FILM “PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN”

colin widi w/K1208024

APRESIASI FILM

“PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN”

Penulis : Abidah el Khalieqy

Penerbit : Yayasan Kesejahteraan Fatayat, Yogyakarta

Resume:

Annisa merupakan anak dari Kiai yang memiliki pondok pesantren. Sejak kecil ia selalu merasa dibeda-bedakan dengan laki-laki. Ia cantik, cerdas, dan berani. Ia menginginkan kesamaan antara laki-laki dan perempuan. Sejak kecil pula ia akrab dengan saudara jauhnya, ia menyebutnya dengan nama “Lik Khundori”. Lik Khundori ini dianggap tempat urhat, tempat memperoleh ilmu, memotivasi Annisa. Karena alasan menuntut ilmu Khundori pergi ke Kairo meneruskan pendidikan. Hubungan mereka tidak putus begitu saja. Mereka tetap berhubungan dengan menulis surat. Sampai akhirnya, Khundori tidak membalas surat Annisa.

Ketika Annisa telah menyelesaikan sekolah, ia ingin melanjutkan pendidikannya ke Universitas. Ia diterima di salah satu universitas di Yogyakarta. Namun, keluarga Annisa tidak mengijinkan Annisa bersekolah sebelum ia bersuami. Akhirnya, ia menikah dengan anak sahabat ayahnya, Samsudin. Dalam perkawinannya, Anissa sangat menderita, suaminya tidak seperti yang ia harapkan. Ia selalu disiksa oleh suaminya. Suatu hari, ada seorang perempuan yang datang ke rumah Annisa. Ternyata perempuan itu mengandung anak Samsudin. Samsudin akhirnya menikahi perempuan itu.

Ketika Annisa pualng ke pesantren Khundori telah pulang dari Kairo. Mereka bertemu dan mempertanyakan kepergian Khundori. Khundori kemudian menulis surat kepada Annisa menyatakan perasaan yang selama ini Khundori rasakan. Mereka kemudian bertemu di pesantren di sebuah tempat jerami. Mereka saling mengungkapkan perasaan. Tetapi, tiba-tiba Samsudin datang dan menuduh mereka berzina. Karena syok, ayah Annisa meninggal dunia.

Annisa merasa tak pantas lagi tinggal di pesantren. Ia pun meneruskan impiannya dengan berkuliah di Yogyakarta. Di Yogyakarta ia kembali bertemu dengan Khundori. Awalnya Annisa tidak mau, tapi akhirnya ia mau menerima pinangan Khundori. Annisa masih trauma dengan perlakuan Samsudin dulu, sehingga ia belum mau melakukan hubungan suami istri. Tapi karena kesabaran Khundori, ia mau melakukannya dan akhirnya hamil.

Saat Annisa mengandung, ia kembali ke pesantren bersama Khundori. Di sana ia ingin menampung kreatifitas santri. Namun, pihak pesantren tidak mengizinkannya. Annisa nekat, dan ia terus memberikan buku-buku modern untuk memacu kreatifitas santri.

Sampai anak Annisa lahir ia tetap di pesantren. Namun, duka menyelimuti Annisa. Khundori meninggal kerena kecelakaan. Ia seperti kehilangan separuh jiwanya. Ia pun pergi ke Yogyakarta karena usul untuk membuat perpustakaan di tolak. Buku-buku yang disembunyikan santri dibakar. Beberapa santri kabur dari pesantren utnuk mengikuti seminar kepenulisan di Yogyakarta. Mereka bertemu dengan Annisa dan dipulangkan oleh Annisa ke pesantren. Dengan perjuangan yang keras, bahkan sampai Samsudin ingin menikahinya lagi karena pesantren terjebak utang usul untuk mendirikan perpustakaan boleh didirikan.

Tema yang diangkat dari Film Perempuan Berkalung Sorban adalah tentang perjuangan seorang wanita untuk mendapatkan kebebasan dan kesetaraan gender di pesantren milik ayahnya sendiri. Film ini dapat memotivasi wanita untuk terus berusaha dan tidak berputus asa. Perjuangan-perjuangan untuk mendapatkan kesamaan hak dari ayahnyabegitu terlihat. Namun, banyak sekali kotroversi yang timbul dari tayangnya film ini. Film ini dianggap melecehkan Islam. Pesan dari film ini sebenarnya baik. Tetapi karena mengankat setting di pesantren yang notabene kental dengan suasana agama Islam, menimbulkan hal yang sangat sensitif. Karena menyangkut suatu agama besar.

Seperti yang diungkapkan oleh beberapa pemuka agama. Menurut Imam Besar Masjid Istiqlal Ali Mustafa Yakub film ini mengandung:

1. Isu yang diangkat adalah kultur pesantren, yang merupakan sumber penyampaian ilmu-ilmu Islam. Namun film perempuan berkalung sorban ini justru mengangkat sisi yang bersebrangan dari apa yang terjadi di pesantren. Penyiksaan, penindasan, tempat menghasilkan orang-orang yang jumud, sadis menjadi fenomena tersendiri di pesantren ini. Hanung sendiri mengatakan bahwa ia tidak membidik pesantrennya, namun yang disorot adalah persoalan ayah-anak perempuan, yang kebetulan ayah ini adalah oknum kiai di sebuah pesantren. Tetapi apa yang dianggap sebagai simbol-simbol kultur keislaman yang ada di Indonesia, mulai dari pesantren, kiai yang dianggap pemuka agama, santri, sorban dan nash-nash al Qur’an dan hadits, justru menjadi obyek yang diulang-ulang dalam film ini.

2. Ketika mengangkat isu ini, yang ditonjolkan justru penyimpangan-penyimpangan Islam tanpa mengemukakan bagaimana yang seharusnya menurut Islam. Ketika sampai pada satu titik penonton awam kemudian melihat betapa buruknya gambaran Islam yang ditontonnya, film ini tidak kemudian menjelaskan bagaimana yang seharusnya. Pada titik inilah masuk pesan dalam film ini yang merupakan persepsi-persepsi kaum liberal. Bahwa seharusnya Islam itu membebaskan perempuan, bahwa seharusnya wali tidak berhak mengekang kebebasan perempuan, bahwa seharusnya pemahaman terhadap nash keagamaan direvisi. Adapun revisi yang diinginkan film ini adalah nilai-nilai liberal dalam pesantren. Kesetaraan yang dimaksud sudah mengandung terminology liberal. Sebagai contoh, ketika ada seorang suami menindas istri karena pemahamannya yang salah terhadap penerapan nilai Islam (dalam adegan anisa dengan suaminya yang putra pemilik pesantren besar tapi justru berperilaku brengsek), yang terjadi justru seharusnya laki-laki tidak boleh mengatur perempuan. Pesan-pesan liberal lain yang termuat dalam film ini antara lain, wali tidak boleh mengatur anak perempuannya, seharusnya perpustakaan pesantren pun memuat buku-buku umum (bukan sekedar sains tetapi pemikiran-pemikiran liberal).

3. Keseluruhan film mengandung propaganda yang membuat kesalahan persepsi dalam memandang Islam dan kultur keislaman. Selanjutnya ingin memasukkan nilai-nilai liberal dalam bahasa kemodernan yang diistilahkan sebagai moderat.

Film ini bercerita tentang dominasi patriarki dan pencarian sebuah kebebasan. Ini sangat menarik. Penuh pesan yang disampaikan dalam film ini. Tema ini mampu memotivasi kaum wanita yang terbelenggu dengan kebodohan. Semangat juang yang dilakukan tokoh utama perlu dijadikan teladan bagi penonton.

Hanya saja, film ini masih berbau religi dan dapat menyinggung suatu agama. Diungkapkan juga ada beberapa dialog yang seharusnya tidak diucapkan atau harus dibenarkan. Juga tidak ada pelurusan terhadap penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan.

Film ini memang penuh dengan kritikan dan terancam diboikot. Mungkin tema dari film ini perlu dipertimbangkan lagi. Kultur pesantren seharusnya tidak perlu ditonjolkan. Cukup sepintas-sepintas saja. Unsur propaganda yang diduga juga perlu perlu diluruskan agar penonton tidak salah persepsi tentang agama Islam secara keseluruhan. Peninjauan ulang juga perlu dilakukan seperti mengutip kitap suci, sehingga tidak terjadi masalah-masalah yang akan timbul setelah penayangan film. Juga, tidak ada pihak-pihak yang tersinggung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: